Skip to main content

Menunggu Hujan


Hujan
kutunggu dirimu, bukan di persimpangan
tak lagi kutunggu hadirmu
karena sudah sekian lama kau membasahi jalanku
menunda kepulanganku
hujan
kutunggu usaimu di penghujung senja
saat kumulai merindu rumahku
yang penuh onggokan baju kusut masai
semoga saja tidak pula kau hujani mereka
hujan
walau aku merindumu
sejuk segar dalam guyuranmu
tapi sungguh aku tidak punya nyali
untuk berlari menghambur pada dekapanmu
menghirup lepas curahan kesegaranmu
hujan di sore ini
melepas anganku liar tidak seperti biasanya
yang selalu tertata dalam kotak
hujan kutunggu dirimu berlalu
sudah puas pula aku berangan
dan gelap pun telah menghadang
bahagiaku mengalir pula bersamamu


Comments

Popular posts from this blog

tante nita

kangen... tan

Berdamai dengan Teguran

(Part 1) Kenapa saya menulis seperti ini?? Karena saya mengalami hal yang sangat tidak mengenakkan dan semoga tidak berulang di lain waktu. Betul dan salah bagaikan dua sisi mata uang, so close with us. Niatnya menegur, sudah pakai cara yang santun, yups dapat semprotan balik, wow koq begini ya! Catatan juga buat anak-anakku tercinta yang tidak luput dari pengelihatan bundamu. • Alasannya pasti ada saja, tentu saja beribu alasan selalu tersedia, kita pun tidak bermasalah dengan alasan yang terlontar apapun bentuknya dan itu suatu permakluman dari seorang teman. • Tapi yang jadi masalah caranya minim samalah dengan standar jemuran maksudnya teguran yang diberikan, syukur-syukur more better wong ya walaupun sedikit memang kita ada khilafnya. • Alasan ataupun pembelaan diri secukupnya dan sewajarnya sajalah, kiranya orang yang menegur paham alasan kehilafan kita, jangan sampai mencari kambing hitam, memperlebar pembicaraan yang memperkeruh masalah. • Meminta solusi kedepan...

assalamu'alaikum

keluarga baru